Detail Berita dan Peristiwa

 

Lima orang perempuan asal Indonesia yang berkarir di dunia riset dan inovasi berbagi inspirasi dan pengalaman dalam Talkshow ‘Women in Research and Innovation’ di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dilaksanakan pada Jumat, 20 Desember 2019. Para peneliti tersebut menekankan bahwa perempuan tetap bisa berkontribusi dalam memajukan dunia riset, teknologi, dan inovasi tanpa harus meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang istri atau seorang ibu.

 

Lima perempuan hebat tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Erika Budiarti Laconi, MS, wakil rektor IPB bidang inovasi, bisnis, dan kewirausahaan; Prof. dr. Pratiwi P Sudarmono, PhD, ahli mikrobiologi Universitas Indonesia yang sekaligus merupakan astronot perempuan pertama di Indonesia; Prof. Dr. dr. Cissy B Kartasasmita, MSc, direktur program CCR ARI Universitas Padjajaran; Dr. Ir. Woro Nur Endang Sariati, MP, kepala Balai Uji Standar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan; dan Marlina Dumasari Nasution, PhD, direktur biostatistik di Parexel International Biopharmaceutical Services Company, USA. Acara talkshow ini dimoderatori oleh Dr. Yessie Widya Sari, MSi, penerima penghargaan L’Oreal – UNESCO for Women in Science Award 2018.

 

Untuk diketahui, ANBIOCORE yang merupakan konsorsium penelitian yang dipimpin oleh Institut Pertanian Bogor (IPB). Melalui program USAID Sustainable Higher Education Research Alliances (USAID SHERA) yang diimplementasikan oleh Institute of International Education (IIE) dan Indonesian International Education Foundation (IIEF), para peneliti ANBIOCORE melakukan berbagai kegiatan penelitian mengenai biologi hewan, terumbu karang, serta perikanan di berbagai wilayah di Indonesia dengan dukungan dana dari USAID.

 

 

Acara talkshow ini diselenggarakan oleh ANBIOCORE sebagai bentuk apresiasi terhadap para perempuan yang berkontribusi dalam dunia riset, teknologi, dan inovasi. Sekaligus memberikan inspirasi kepada para mahasiswa dan khalayak. “Ini sejalan dengan apa yang sudah ditekankan oleh USAID melalui program SHERA yang mendorong keterlibatan perempuan dalam setiap proyek penelitian dan kegiatan lainnya,” kata Direktur Program ANBIOCORE Prof. drh. Bambang Purwantara, DVM, Msc, PhD.

Menurut Prof. Bambang, keterlibatan para perempuan di dalam proyek-proyek penelitian ANBIOCORE cukup penting, bahkan jumlah peneliti perempuan mencapai lebih dari 50 persen. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan sudah memiliki peran yang sama dengan laki-laki.

Wakil Rektor IPB Bidang Inovasi, Bisnis, dan Kewirausahaan Prof. Dr. Ir. Erika Budiarti Laconi, MS mengatakan, sebenarnya peran perempuan dalam bidang penelitian dan inovasi bisa dilihat dari sejauh mana keterlibatannya secara aktif dan kesempatan yang didapatkan. “Jumlah perempuan tidaklah penting. Namun yang penting adalah bagaimana perempuan bisa mendapatkan kesempatan dan peran yang sama dengan laki-laki dalam bidang penelitian dan inovasi,” ujarnya.

 

Prof. Erika juga mengatakan bahwa dirinya telah membuktikan perempuan bisa memiliki peran yang setara dengan laki-laki. Saat ini, dirinya menjadi perempuan pertama di IPB yang menjabat sebagai wakil rektor. Ini merupakan prestasi tersendiri bahwa akhirnya perempuan mendapatkan pengakuan dan kepercayaan untuk menduduki posisi yang sangat strategis di kampus.

 

Sementara itu, Prof. dr. Cissy B Kartasasmita, MSc bercerita mengenai dedikasinya dalam ilmu kedokteran. Dia juga pernah mendapatkan kepercayaan untuk menduduki jabatan sebagai direktur RS Hasan Sadikin Bandung. Perempuan yang akrab disapa dr. Cissy itu merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai direktur rumah sakit milik pemerintah itu.

 

Dalam paparannya, dr. Cissy menyebut bahwa tantangan perempuan yang berkarir di dunia penelitian dan inovasi cukup berat. Ini dikarenakan seorang perempuan, apalagi yang sudah berkeluarga, juga memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya. “Jadi memang harus bisa membagi waktu. Namun beruntung suami dan keluarga saya sangat mendukung karir saya,” ujar dr. Cissy yang juga menceritakan perjalanan karirnya sebagai seorang dokter.

 

Lalu, mengapa terus bertahan dalam dunia penelitian dan inovasi? dr. Cissy mengatakan, perubahan zaman terjadi begitu cepat. Ada banyak sekali masalah-masalah yang muncul di masyarakat dan perlu untuk dicarikan solusinya. Di situlah tugas dari seorang peneliti untuk mencarikan solusi melalui berbagai macam penelitian. Dia juga menyebut bahwa sebagai seorang pengajar di universitas, dirinya dituntut untuk terus melakukan penelitian. “Ada kepuasan tersendiri ketika hasil penelitian kita bisa dipublikasikan dan dipresentasikan ke luar negeri,” ungkap perempuan yang juga menjadi pengajar di Universitas Padjajaran tersebut.

 

Menurut dr. Cissy, ketika dirinya banyak menghasilkan penelitian dan tulisan karya ilmiah yang dipublikasikan hingga ke luar negeri, maka artinya kompetensinya juga diakui. Sehingga tidak jarang dia juga sering diminta untuk berkolaborasi dalam berbagai penelitian dalam tingkat internasional. Termasuk saat dirinya menjabat sebagai Direktur Program Center for Collaborative Research (CCR) ARI yang didukung oleh USAID SHERA, ada banyak sekali peluang kolaborasi dengan berbagai lembaga, termasuk dengan CCR ANBIOCORE. “Kolaborasi ini penting. Melalui program USAID SHERA ini akhirnya kami bisa berkolaborasi dengan banyak pihak,” katanya.

 

Di akhir acara talkshow, dilakukan penandatanganan ‘Deklarasi Bogor untuk Wanita Peneliti 2019’. Deklarasi ini dibuat sebagai komitmen dari CCR ANBIOCORE untuk berkolaborasi dengan semua kampus afiliasi dan mitra dalam mendorong perempuan untuk terlibat dalam kegiatan penelitian dan inovasi. Deklarasi ditandatangani oleh seluruh kampus afiliasi ANBIOCORE dan lembaga lainnya yang terlibat.

 

Kategori: Teknologi Inovasi

Komentar
Leave a Comment